Gerindra Terbesar Belanja Sosialisasi
Gencarnya iklan politik di media massa elektronik membuat lembaga survei tergerak membandingkannya. Lembaga itu menghitung besarnya biaya untuk memajang iklan politik di televisi oleh peserta pemilu.
Misalnya seperti survei yang dilakukan AC Nielsen periode 1 Oktober 2008 hingga 2 Februari 2009. Dalam survei itu didapat bahwa Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) menempati urutan pertama dalam hal belanja iklan pemilu melalui televisi. Urutan kedua ditempati Partai Demokrat dan Partai Golkar di posisi ketiga.
Materi iklan Partai Gerindra yang menawarkan janji perbaikan, terutama bagi kalangan menengah ke bawah, dianggap tepat sasaran. Hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada Oktober 2008 juga menunjukkan iklan Partai Gerindra menempati peringkat pertama untuk kategori iklan yang paling diingat pemirsa.
Untuk mendapatkan posisi pertama, dana yang digelontorkan pun tidak sedikit, yakni Rp46,7 miliar, sesuai dengan data yang dikeluarkan AC Nielsen.
Dengan dukungan dana sebesar itu, partai besutan Prabowo Subianto itu mampu menjangkau pemirsa televisi, terutama karena tayangan berdurasi sekitar 30 detik dilakukan pada jam-jam strategis atau prime time. Dalam waktu tersebut, jumlah penonton mencapai puncaknya dan iklan secara audio visual dapat lebih mudah terserap pemirsa.
“Kalau mau ikut pemilu, memang enggak bisa pas-pasan, harus punya dukungan finansial memadai,” kata Corporate Secretary MNC Group Gilang Iskandar dalam seminar berjudul Pemilu 2009 dalam perspektif media di Gedung Dewan Pers, Jakarta, kemarin.
Partai Demokrat yang berada di peringkat kedua, menurut hasil survei AC Nielsen, menghabiskan dana sebesar Rp36,1 miliar. Sementara itu, rival sekaligus sahabat Partai Demokrat, Partai Golkar, menghabiskan dana senilai Rp18,873 miliar untuk mendukung kampanyenya melalui televisi.
Di pihak lain, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menghabiskan dana senilai Rp4,8 miliar untuk belanja iklan televisi. Selanjutnya PDI-P menghabiskan dana untuk belanja iklan sebesar Rp4,672 miliar.
PDI-P menghemat belanja iklan dengan lebih banyak memainkan isu di media massa. Misalnya, menggulirkan wacana pasangan cawapres yang akan mendampingi Megawati dalam Pilpres 2009. Isu itu tepat sasaran karena hampir semua media televisi menayangkan pada prime time.
“Saya pernah berbincang tentang iklan guru bangsa yang sempat diprotes masyarakat. Itu memang sengaja dilakukan demi menyiasati dana yang kecil,” ujar Gilang.
Lebih jauh, Gilang menuturkan perbedaan dana iklan yang dikucurkan tentu berpengaruh terhadap popularitas suatu partai. “Televisi tidak bisa dipersalahkan jika tidak bisa memberikan porsi yang sama pada setiap partai,” paparnya.
1 Komentar »
Tinggalkan Balasan
-
Arsip
- Maret 2009 (51)
- Februari 2009 (18)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS
5…GERINDRA…
PRABOWO….PRESIDEN…
Aq tunas muda Indonesia Raya dr Makasaar,bangga pnya bpk seperti prabowo yang tegas dan beribawa….
Saya mendukung Bapak Prabowo menjadi PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA……